Fenomena ceker merco tak hanya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, tetapi juga merambah ke kota-kota lain seperti Yogyakarta, Semarang, hingga Makassar.
BACA JUGA:Ayam Geprek Naik Daun Lagi : UMKM Berinovasi, Media Sosial Jadi Penggerak Utama
BACA JUGA:Bakso Mercon Jadi Primadona Kuliner Pedas, Penikmat Membludak di Sejumlah Kota
Pedagang kaki lima maupun pelaku usaha kuliner rumahan turut memanfaatkan momentum ini dengan membuka gerai atau memasarkan menu ceker merco melalui layanan pesan antar.
Salah satu penjual, Siti Nuraini, pemilik Ceker Merco Mbak Nin di kawasan Bogor, mengaku omset tokonya meningkat hingga dua kali lipat sejak video ceker merco miliknya viral di TikTok.
“Awalnya saya hanya jual sekitar 30 porsi per hari. Sekarang bisa sampai 80 sampai 100 porsi. Banyak pelanggan yang datang hanya karena penasaran,” ujarnya.
Tidak sedikit pembeli yang datang secara rombongan, menjadikan ceker merco sebagai tantangan kuliner yang seru dicoba bersama teman.
Beberapa bahkan membuat konten challenge yang memperlihatkan reaksi mereka saat menghadapi rasa pedas yang meledak-ledak.
Seiring meningkatnya popularitas ceker merco, para pedagang mulai berinovasi dengan menambahkan ragam pilihan menu lain.
Kini, tidak hanya ceker merco yang menjadi primadona, tetapi juga varian seperti sayap merco, tulang lunak merco, usus merco, hingga mi merco.
Inovasi tersebut semakin memperkaya pengalaman kuliner dan menarik pelanggan dari berbagai kalangan. Orang yang tidak menyukai ceker tetap dapat mencicipi sensasi pedas khas merco melalui variasi menu lainnya.
Di media sosial, warganet ramai berbagi pengalaman setelah mencoba ceker merco. Banyak yang menyebut hidangan ini sebagai “comfort food pedas” karena rasa gurihnya mampu menyeimbangkan tingkat kepedasan yang ekstrem.
Namun, ada juga yang mengakui bahwa ceker merco terlalu pedas untuk dinikmati sehari-hari dan lebih cocok sebagai makanan tantangan.
“Pedasnya nendang banget, tapi bikin nagih! Kuahnya gurih, cekernya lembut, dan aromanya kuat. Sekali coba langsung pengen lagi,” tulis seorang pengguna di Instagram.
Meski popularitasnya terus meningkat, pedagang menghadapi beberapa tantangan dalam produksi, terutama menjaga konsistensi rasa dan kualitas bahan.
Ceker ayam yang harus dibersihkan secara teliti dan direbus lama membutuhkan proses persiapan yang tidak singkat.