Cimol Keju, Camilan Jalanan yang Makin Populer di Kalangan Milenial

Cimol Keju, Camilan Jalanan yang Makin Populer di Kalangan Milenial

Kejunya meleleh, rasanya ngangenin.-Fhoto: Istimewa-

PALPOS.ID - Di tengah menjamurnya tren makanan kekinian, satu jenis camilan tradisional justru kembali mencuri perhatian masyarakat, terutama kalangan milenial dan gen Z: Cimol Keju.

Camilan berbahan dasar tepung tapioka ini mengalami transformasi rasa dan tampilan yang membuatnya semakin digemari, baik sebagai jajanan jalanan maupun menu andalan di berbagai kafe modern.

 

Cimol sendiri merupakan singkatan dari "aci digemol"—bahasa Sunda yang berarti aci (tepung tapioka) yang dibentuk bulat.

Asalnya dari Jawa Barat, cimol biasanya digoreng dan disajikan dengan bubuk cabai atau bumbu asin pedas.

BACA JUGA:Mozzarella Sticks, Camilan Renyah yang Kian Populer di Kalangan Anak Muda Indonesia

BACA JUGA:Bola-Bola Singkong Krispy, Inovasi Camilan Tradisional yang Makin Digemari

Namun kini, hadir dalam berbagai variasi rasa, dan salah satu yang paling populer adalah cimol keju.

 

 

Cimol keju bukan sekadar cimol biasa yang ditaburi keju bubuk.

Beberapa penjual mulai mengkreasikan cimol dengan isi keju leleh di dalamnya, menciptakan sensasi lumer saat digigit.

Ada juga yang menambahkan saus keju mozarella panggang sebagai topping, memberikan cita rasa yang lebih creamy dan gurih.

BACA JUGA:Susu Goreng, Camilan Viral yang Bikin Penasaran: Apa Itu dan Mengapa Banyak Dicari?

BACA JUGA:Fenomena Brulee Bomb : Camilan Viral yang Bikin Ketagihan, Ini Asal Usul dan Fakta Menariknya

 

"Anak-anak muda sekarang lebih suka jajanan yang unik dan Instagramable," ujar Dita Lestari (26), pemilik gerai CheesyMols di kawasan Cibubur.

"Kami mulai bereksperimen dengan cimol keju sejak tahun lalu, dan ternyata responnya sangat bagus.

Apalagi kalau ditambah saus pedas manis, rasanya makin nendang!"

 

Menurut Dita, dalam sehari ia bisa menjual hingga 300 porsi cimol keju, terutama saat jam pulang sekolah dan akhir pekan.

BACA JUGA:Pisang Goreng Pasir : Camilan Tradisional dengan Sentuhan Unik yang Kian Populer

BACA JUGA:Churros, Camilan Manis yang Kian Populer di Indonesia

Ia juga menyediakan varian cheese lava, di mana bagian dalam cimol berisi saus keju cair yang meleleh ketika digigit.

 

 

Popularitas cimol keju tak lepas dari peran media sosial.

Di TikTok dan Instagram, video mukbang atau review cimol keju seringkali viral dan mendapatkan ribuan like dan komentar.

Tak sedikit pula influencer kuliner yang turut memperkenalkan varian baru cimol keju kepada pengikutnya.

 

Salah satu konten kreator TikTok, @kulinerkece, pernah membuat video "Cimol Keju Meleleh di Mulut" yang ditonton lebih dari 2 juta kali dalam tiga hari.

Dalam video itu, ia memperlihatkan proses pembuatan cimol dari adonan aci hingga saat keju meleleh keluar dari dalam bola-bola cimol.

 

"Karena videonya rame, banyak yang DM nanya beli di mana," kata pemilik akun tersebut.

"Sekarang cimol keju udah kayak makanan hits yang wajib dicoba."

 

 

Fenomena ini juga membuka peluang usaha bagi banyak orang, terutama pelaku UMKM. Tak sedikit penjual yang mulai memasarkan cimol keju dalam bentuk frozen food, sehingga bisa dijual ke luar kota bahkan luar pulau.

Di marketplace, produk "cimol keju beku" bisa ditemukan dengan harga berkisar antara Rp 20.000 – Rp 35.000 per pack, tergantung isian dan beratnya.

 

Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Barat bahkan mencatat adanya peningkatan jumlah pelaku usaha kuliner berbasis aci, termasuk penjual cimol keju, hingga 25% selama tahun 2024.

Inovasi varian dan kemasan menjadi faktor utama dalam peningkatan permintaan.

 

"Kami mendorong pelaku UMKM untuk mengemas produk tradisional seperti cimol dengan pendekatan modern, baik dari segi rasa maupun pemasaran," ujar Hendra Gunawan, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Barat.

"Cimol keju adalah contoh sukses bagaimana inovasi bisa membuat produk lokal naik kelas."

 

 

Di balik kepopulerannya, muncul juga kekhawatiran dari beberapa kalangan akan hilangnya keaslian cimol sebagai camilan tradisional.

Namun, banyak yang menilai bahwa inovasi seperti cimol keju justru bisa menjadi cara untuk menjaga eksistensi makanan lokal di tengah gempuran makanan impor.

 

"Saya rasa tidak ada yang salah dengan menambahkan keju ke cimol," kata Nur Rahmah, seorang pakar kuliner tradisional dari Universitas Padjadjaran.

"Selama bahan utamanya tetap aci, dan prosesnya tidak menghilangkan karakter dasar cimol, maka itu bisa disebut adaptasi budaya kuliner."

 

 

Hari ini, tak sulit menemukan cimol keju di berbagai penjuru kota. Mulai dari pedagang kaki lima hingga food court mall, camilan ini menjadi pilihan favorit karena murah, mengenyangkan, dan kaya rasa.

Harga satu porsi cimol keju berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 20.000 tergantung tempat dan isian.

 

Rani (18), siswi SMA di Bekasi, mengaku hampir setiap minggu membeli cimol keju.

“Rasanya gurih dan kejunya berasa banget. Kalau lagi nongkrong sama teman, pasti cari cimol keju,” ujarnya.

 

Dengan tren makanan yang terus berubah dan berkembang, cimol keju menjadi bukti bahwa inovasi dan kreativitas bisa membawa kuliner tradisional tetap eksis di tengah era modern.

Dan selama masyarakat terus menyukainya, tampaknya cimol keju akan terus menjadi camilan favorit generasi muda Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: